VW Mencemooh Teknologi "Fuel Cell" milik Toyota

Tokyo, KompasOtomotif - Volkswagen AG terus berusaha bersaing ketat Toyota Motor Corporation dalam memenuhi ambisinya menjadi produsen mobil terbesar di dunia pada 2018. Produsen mobil terbesar Eropa itu mencemooh teknologi fuel cell yang diprakarsai Toyota tersebut dengan menyatakan bakal sulit mencapai sukses di luar Jepang.

Shigeru Shoji, Presiden Direktur Grup VW Jepang mengatakan, insentif yang dikeluarkan Pemerintah Jepang, hingga 3 juta yen (Rp 35,1 juta) per mobil bahan bakar hidrogen, akan sulit diimbangi oleh negara lain di dunia. Bahkan di negara asalnya, proses pengisian bahan bakar (hidrogen) tidak praktis karena harus membangun infrastruktur butuh waktu dan biaya yang besar.

"Mungkin akan sukses di Jepang, tetapi tidak secara global," jelas Shoji, dilansir Bloomberg,Senin (8/9/2014). Teknologi fuel cell bisa hanya menjadi salah satu contoh "sindrom galapagos", membuat perusahaan Jepang menciptakan produk yang sukses di negara asalnya saja. Pandangan negatif Shoji ini juga pernah disampaikan Elon Musk, Chief Executive Officer Tesla Motors Incorporated, beberapa waktu lalu. 

Di Jepang, kendaraan fuel cell (FCV) mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Menciptakan jalan khusus bagi kendaraan itu sehingga mendapat perlakuan khusus, seperti yang pernah terjadi pada Toyota Prius yang berteknologi hibrida.

"Supaya bisa bertahan, Anda perlu menghasilkan produk baru, yang lebih baik. Ini bukan sekedar nasionalis," jelas Ha Pham, analis Jefferies Group Incorporated di Tokyo.

Masih mahal
Dion Corbett, juru bicara Toyota di Tokyo mengatakan, kendaraan berteknologi fuel cell hanya menghasilkan uap air sebagai gas buang. Menawarkan salah satu solusi terbaik untuk mengurangi emisi karbon di Jepang. Menyangkut pernyataan Shigeru Shoji, Corbett tidak mau berkomentar.

"Sistem teknolgi fuel cell masih relatif mahal sehingga kami butuh sokongan subsidi dari pemerintah Jepang. Sulit untuk membayangkan kalau FCV akan banyak dikendarai hanya dalam dua bulan mendatang," beber Corbett.

Juni lalu, Toyota mengatakan selain Jepang, perusahaan berharap bisa menjual kendaraan FCV di Jerman, California, dan beberapa kota di kawasan timur Amerika Serikat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar