Ini Salah Satu Rahasia Abong Raih Wapresdir Toyota Astra Motor

Kehidupan ini sangat indah. Tak semua perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam meraihnya. Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yang kuat, jujur, apa adanya, dan selalu melakukan inovasi. Di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-kisah mengharukan dan menyedihkan. Semua itu adalah proses yang harus dilalui. Kompas.com terus menurunkan serial artikel "Success Story" tentang perjalanan tokoh yang inspiratif. Semoga pembaca bisa memetik makna di balik kisahnya.

KompasOtomotif - Menjadi direksi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, PT Astra International Tbk tak pernah diimpikan Suparno Djasmin sebelumnya. Apalagi, jabatan ini diperoleh bersamaan dengan pimpinannya ketika memulai karir di Grup Astra.

Ketika diterima bekerja di Astra, Suparno Djasmin memulai karirnya menjadi management trainee selama setahun. Setelah lulus, Abong, begitu ia akrab disapa, ditempatkan di divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD) di Kantor Pusat Astra, Djuanda , Jakarta Pusat.

"Dulu bos saya itu Pak Charlo Mamora, saya anak buah pertamanya pak Paulus Bambang Santoso. Ketika ia (Paulus Bambang) menjadi manajer, dulu anak buah pertamanya ya saya," celoteh Abong saat berbincang santai dengan KompasOtomotif, belum lama ini.

Ketika lulus dari Manajemen Trainee, Abong mendapat wawancara dengan Charlo Mamora dan dinyatakan cocok untuk bekerja di HRD. Tanpa pikir panjang, Abong menerima pinangan calon atasannya itu, kemudian bekerja sebaik mungkin sesuai aturan perusahaan yang berlaku.

Kunci

"Masuk HRD, saya tidak mengerti apa-apa, tahunya waktu payroll (gajian) saja. Ternyata dunia HRD itu sangat luas dan penting. Meskipun pada awalnya tidak paham, tapi saya mau belajar, terus mau berusaha sebaik-baiknya. Kuncinya hanya itu," kenang Abong.

Selama berkecimpung di HRD, Abong juga aktif dalam kegiatan eksternal perusahaan, paduan suara. Selain itu, karena menjabat sebagai Komite Sekertaris HRD, Abong juga kerap mengikuti berbagai acara rapat direksi perusahaan, bertugas sebagai notulensi. Posisi ini juga yang membuatnya kerap dikenal para direksi Grup Astra.

Setelah tiga tahun menjalani karir di HRD, di dalam benak Abong terasa ada yang mengganjal. Ia sebenarnya menginginkan pekerjaan yang lebih menantang, terutama di bidang operasional, seperti pemasaran dan penjualan.

Kuliah lagi

Mengingat latar belakang pendidikan Sarjana Teknologi Pertanian, Abong lantas memutuskan untuk kuliah lagi, strata satu mengambil jurusan manajeman di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), program kelas perpanjangan (extention class). Setelah pulang bekerja, ia lantas menuju kampus FEUI untuk mengikuti pelajaran manajemen.

Tapi, selama ia bekerja di divisi HRD, Abong mengaku sama sekali tidak merugi. "Pokoknya, saya sifatnya seperti spons saja, menyerap sebanyak-banyaknya. Saya belajar sebanyak-banyaknya, sambil kuliah di FEUI, karena tidak mau melulu di HRD, inginnya pindah ke bagian operasional," celoteh Abong.

Keinginannya pindah divisi, membuat Abong mencoba peruntungan dengan melamar ke perusahaan lain, PT Multi Bintang Indonesia (MBI). Perusahaan yang kala itu dipimpin oleh Tanri Abeng, kala itu sempat dijuluki sebagai "Manajer Satu Miliar".

"Dulu cerita Tanri Abeng sangat menginspirasi, saya mau kerja di perusahaan seperti ini. Sampai akhirnya dites di Jakarta Consulting Group dan diterima, dulu mau dijadikan manajer produk Green Sands. Karena ada tawaran seperti ini, saya lantas mau berbicara dengan atasan saya di HRD Astra," cerita Abong.

Dengan segenap keberanian, Abong kemudian berbicara dengan wakil GM HRD, almarhum AM Iljas atas keinginannya itu. Sebagai pemimpin yang baik, Iljas kemudian menganjurkan Abong untuk memikirkan lagi langkahnya ingin keluar dari perusahaan. Selain itu, ia juga menyuruh Abong untuk berbicara langsung dengan Theodore Permadi Rachmat atau dikenal Teddy Rachmat selaku Direktur Grup Astra.

"Saya pastikan ini, bos itu sangat berpengaruh bagi karir seseorang. Kalau bos mau terbuka, talent yang tadinya mau keluar bisa nggak jadi," kenang Abong.

Karena Abong aktif pada padus dan notulensi di beberapa rapat direksi, ia merasa Pak Teddy cukup tahu dirinya, meskipun bukan dalam penilaian kinerja. Didorong anjuran Iljas, Abong kemudian memutuskan berbicara dengan bos besar, Teddy. Setiap hari, ia mengetahui kalau rutinitas Teddy kerap datang pukul 07.00 WIB di kantor Astra Pusat di Djuanda, Jakarta Pusat.

"Saya kemudian datang siap jam 06.30 WIB, kemudian menunggu di depan lift. Kebetulan kantor Pak Teddy satu lantai dengan HRD, jadi saya menunggunya di lantai 2. Begitu Pak Teddy keluar, saya bilang, 'Pak Teddy boleh minta waktu lima menit?' Dia merespons 'boleh', kemudian pada kesempatan ini, saya membicarakan keinginan saya," beber Abong.

Setelah menyampaikan keinginannya, termasuk adanya tawaran dari perusahaan lain, Abong dijanjikan jawaban dalam dua minggu ke depan. Ternyata, dalam dua pekan, Abong mendapat surat perpindahan kalau dirinya akan dipindah ke PT Astra Sedaya Finance (ASF) atau lebih dikenal dengan Astra Credit Companies (ACC).

"Saya sangat salut dengan Pak Teddy, dia mau kasih saya waktu mungkin 15 menit, dia hebat sekali. Menurut saya, intinya kalau masih baru bekerja, apapun bisa dikerjakan, apapun. Kalau belum tahu, harus belajar, jadi spons, tetapi juga harus kerja dengan hasil terbaik, kalau tidak dan banyak mengeluh, ketika mau menyampaikan keinginan tidak akan didengarkan bos. Banyak mengeluh gitu, bos juga akan males mendengarnya," cetus Abong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar